DAFTAR ISI

Jumat, 28 Oktober 2011

1. Definisi Makna Hidup
Makna hidup menurut Frankl (1984) adalah kesadaran akan adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi oleh realitas. Makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini sebagai sesuatu yang besar serta dapat dijadikan tujuan hidup. Makna hidup juga memberikan nilai khusus bagi seseorang.
Sedangkan menurut Ponty (dalam Brower, 1984) makna hidup adalah sebagai hal yang membuka suatu arah. Implikasinya di analogikan seperti warna yang tidak bisa membuka arah bagi yang buta, yang tertutup dalam penjara kegelapan.
Lain lagi dengan pendapat Adler (2004), mengatakan bahwa makna hidup merupakan suatu ‘gaya hidup’ yang melekat, mendiami, dan menjadi ciri khas individu dalam melakukan interpretasi terhadap hidupnya. Adapun ‘gaya hidup’ itu bersifat unik yang mana disebabkan karena perbedaan pola asuh setiap individu pada masa kanak-kanak.
Yalom (dalam Sundari, 2001), berpendapat bahwa makna hidup (meaning of life) adalah suatu pemeriksaan mengenai makna alam dunia, mengenai hidup atau hidup manusia yang sesuai dengan pola-pola yang koheren. Ditambahkan bahwa pengertian tentang makna hidup mengandung tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi.
Bastaman (1996) menyatakan bahwa makna hidup merupakan suatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. Pengertian mengenai makna hidup menunjukkan bahwa didalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Maka hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri, walaupun dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan karena sering tersirat dan tersembuyi didalamnya. Bila makna hidup ini berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan dirasakan bermakna dan berharga yang pada gilirannya akan menimbulkan perasaan bahagia.
Maka dapat disimpulkan bahwa makna hidup adalah hal yang dianggap penting oleh seseorang, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang sangat besar, dan dapat memberikan nilai khusus bagi seseorang, juga dapat dijadikan tujuan hidup.

2. Landasan Filosofis Makna Hidup
Menurut Bastaman, (1996) Logoterapi mempunyai tiga landasan filosofis yang antara satu dan lainnya berkaitan erat dan saling menunjang. Makna hidup merupakan salah satu diantara filosofi yang saling berkaitan itu. Landasan itu adalah :
a. Kebebasan berkehendak (Freedom of will)
Dalam keadaan logoterapi, manusia adalah mahluk yang terbatas dan memiliki kebebasan yang juga terbatas, artinya manusia tidak lepas dari kondisi-kondisi yang melingkupinya, tetapi bebas untuk menyikapi berbagai kondisi yang dihadapi. Frankl (1984) menyatakan bahwa hidup manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan dipengaruhi, ia dapat menentukan sikap untuk menyerah atau mengatasi keadaan nya bahkan pada situasi yang tidak dapat diubah, ia dapat memutuskan hidup yang dijalani dan hidupnya di masa yang akan datang. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi itu. Manusia juga mampu mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi-kondisi diluar dirinya, bahkan terhadap dirinya sendiri (self ditechment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self-determining being” yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap baik dan penting dalam hidupnya. Menurut Frankl (1984) kebebasan adalah setengah dari kebenaran, maksudnya di dalam kebenaran terkandung aspek negatif yaitu kebebasan, dan aspek positifnya adalah sikap bertanggung jawab, oleh karena itu agar kebebasan tidak berkembang menjadi kesewenangan maka dalam pandangan logoterapi kebebasan harus diimbangi dengan sikap tanggung jawab (responsibility). Logoterapi menganggap sikap tanggung jawab ini merupakan esensi dasar kehidupan manusia.
b. Kehendak Hidup Bermakna (Will to Meaning)
Menurut Frankl (1968) setiap manusia secara alamiah memiliki kehendak untuk hidup bermakna. Kehendak inilah yang pada akhirnya mengarahkan kehidupan manusia untuk menemukan makna hidupnya. Logoterapi memandang perjuangan untuk menemukan makna hidup merupakan motivasi utama dalam hidup manusia. Hasrat ini memotivasi setiap orang untuk memberikan sesuatu yang berharga dan berguna dalam kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan nyata misalnya : bekerja, berkarya, dan melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Tujuannya adalah agar hidup berharga dan dihayati secara bermakna. Hasrat hidup bermakna adalah fenomena yang benar-benar nyata dan dirasakan penting dalam kehidupan manusia. Hasrat ini membantu manusia mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Frankl menyebutnya sebagai “the will to meaning” bukan “the drive to meaning” karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to pust, to drive) tetapi bersifat menarik (to pull) dan menawarkan (to offer) seseorang untuk memenuhinya.
c. Makna Hidup (Meaning of Life)
Hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup terkandung dan tersembunyi dalam setiap situasi yang dihadapi manusia, ia mengarahkan manusia untuk mengambil peranan dalam hidup bersama dengan manusia lain. Jika seseorang berhasil dalam menemukan makna hidupnya akan menimbulkan penghayatan bahagia (happiness) sebagai efek sampingnya (Bastaman, 1996). Makna hidup ini merupakan sesuatu yang unik dan khusus, dan hanya bisa dipenuhi oleh individu yang bersangkutan.

3. Karakteristik Makna Hidup
Menurut Bastaman (1996) untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang makna hidup maka perlu diketahui karakteristiknya yaitu :
1. Unik dan Personal
Artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti bagi orang lain bahkan apa yang dianggap bermakna pada saat ini mungkin berbeda dalam waktu yang berbeda. Apa yang bermakna bagi kehidupan seseorang biasanya bersifat khas, berbeda dengan orang lain, dan mungkin berubah juga dari waktu ke waktu. Jadi, yang dimaksud unik dan personal adalah makna yang bersifat khas bagi individu dan mungkin khas untuk suatu kurun waktu.

2. Spesifik dan Konkrit
Artinya makna hidup ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari, dan tidak harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealistis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi atau hasil-hasil renungan filosofis yang kreatif. Peristiwa sehari-hari pun dapat memberikan makna bagi kehidupan seseorang.
3. Memberi Pedoman dan Arah
Makna hidup seseorang akan memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, sehingga makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya. Makna hidup tidak mendorong (to pust, to meaning) kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, tetapi menarik (to pull) atau seakan-akan memanggil seseorang untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
Mengingat keunikan dan kekhususan ini, maka makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri karena makna hidup merupakan suatu hal yang sangat personal.
Selain ketiga karakteristik tersebut, logoterapi mengakui adanya makna hidup yang sifatnya mutlak (absolut), semesta (universal), paripurna (ultimate). Bagi orang yang kurang religius, alam semesta, ekosistem, pandangan filsafat dan ideologi tertentu memiliki nilai universal, dan paripurna, dan menjadikannya sebagai landasan dan sumber makna hidup, sedangkan bagi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, maka agama menjadi sumber makna hidup paripurna yang mendasari makna hidup pribadi (Bastaman, 1996).

4. Sumber-Sumber Makna Hidup
Setiap individu dapat menemukan makna dalam hidupnya dengan menelusuri sumber-sumber makna hidup, Frankl (dalam Guttman, 1996) menunjukkan tiga sumber makna hidup, yaitu :
a. Nilai-nilai Kreatif (Creative Values)
Nilai-nilai kreatif adalah nilai-nilai yang dapat dipenuhi melalui berbagai tindakan yang nyata misalnya dengan cara menciptakan suatu pekerjaan atau melakukan suatu perbuatan. Inti dari nilai ini adalah memberikan sesuatu yang berharga dan berguna bagi kehidupan. Lingkup kegiatannya sangat luas, mulai dari pelaksanaan tugas hingga aktifitas yang kreatif seperti pekerjaan, belajar, kegemaran, dan hobi. Aktivitas-aktivitas itu mempresentasikan keunikan keberadaan individu dalam hubungannya dengan masyarakat dan karenanya memperoleh makna dan nilai. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dengan sepenuh hati, dan bila hal itu dilakukan maka secara tidak langsung ia telah menghayati aktivitasnya. Bukan karena kewajiban rutin tetapi lebih karena nilai yang terkandung didalamnya. Menurut Pattakos (2004) memberi makna pada pekerjaan atau aktivitas lebih dari sekedar menyelesaikan sebuah tugas untuk mendapatkan imbalan nyata seperti : uang, status atau gengsi, tetapi memiliki komitmen tehadap nilai dan tujuan yang mungkin tidak kelihatan “nyata” dan penuh makna, yaitu penghargaan kepada kebutuhan-kebutuhan yang terdalam dari kita. Menemukan nilai melalui tindakan kreatif merupakan cara mewujudkan potensi yang dimiliki. Sejalan dengan itu Maslow (1987) mengatakan bahwa tujuan utama upaya manusia adalah aktualisasi diri yakni penggunaan potensi yang dimiliki secara penuh. Melakukan tindakan kreatif merupakan wujud dari kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran hidup bersama dengan manusia lain. Semakin teraktualisasi potensi maka semakin bermakna hidup yang dijalani.
b. Nilai penghayatan (Experietial Values)
Seseorang mencoba memahami, meyakini, dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan. Nilai-nilai ini diperoleh melalui apa yang dijalani dalam hidup sehari-hari : pengalaman akan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan cinta. Apabila seseorang dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai tersebut dapat dikatakan bahwa orang itu menemukan makna hidupnya.
c. Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Pendalaman dari nilai bersikap pada intinya menuntut seseorang untuk dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai peristiwa dan kondisi-kondisi yang mungkin tidak menyenangkan dan sulit untuk dihindari. Ketika dihadapkan pada kondisi tertentu yang tidak bisa diubah maka mengubah cara untuk menyikapi kondisi merupakan salah satu cara dalam menemukan makna hidup. Nilai bersikap dianggap merupakan nilai yang paling tinggi karena sekalipun pada kondisi ini individu tidak bisa berkreativitas ataupun kehilangan kesempatan untuk melakukan penghayatan, nyatanya ia tetap dapat menemukan makna hidupnya melalui penyikapan yang tepat terhadap kondisi yang sedang dihadapinya.
Hidup adalah sebuah kesempatan untuk membentuk nasib melalui nilai-nilai kreatif dengan menentukan sikap terhadap nasib melalui nilai-nilai bersikap, di sanalah pencapaian makna penderitaan terjadi. Dengan merealisasi nilai-nilai bersikap ini, berarti individu menunjukkan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaannya. Penderitaan dapat membuat manusia menjadi matang karena melalui penderitaan itulah manusia belajar dan semakin memperkaya hidupnya (Bastaman, 1977).

5. Komponen-komponen Makna Hidup
Kesadaran akan pentingnya makna hidup manusia tidak muncul begitu saja, namun didukung oleh beberapa komponen, Bastaman (1996) mendeteksi adanya enam komponen yang menentukan berhasilnya perubahan hidup tidak bermakna menjadi bermakna, sebagai berikut :
a. Pemahaman Diri (self insight)
Meningkatnya kesadaran akan buruknya kondisi pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi yang lebih baik.
b. Makna Hidup (the meaning of life)
Nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya.
c. Perubahan-perubahan Sikap (changing attitude)
Dari yang tidak tepat menjadi lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup, dan musibah.
d. Keikatan Diri (self commitment)
Terhadap makna hidup yang ditemukan dan tujuan hidup yang ditetapkan.
e. Kegiatan Terarah (directed activities)
Upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi pribadi (bakat, kemampuan, dan keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna tujuan hidup.
f. Dukungan Sosial (social support)
Hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia membantu pada saat-saat yang diperlukan.

Berdasarkan sumbernya komponen ini dapat dikelompokkan menjadi 3 (Bastaman 1996), yaitu :
1. Kelompok Komponen Personal
Pemahaman diri dan pengubahan sikap.
2. Kelompok komponen sosial
Dukungan sosial.
3. Kelompok komponen nilai
Makna hidup, keikatan diri, dan kegiatan terarah.

Keenam unsur diatas merupakan proses yang integral dan dalam konteks mengubah penghayatan hidup tidak bermakna menjadi bermakna antara satu dengan yang lainnya tak dapat dipisahkan. Apabila kita menganalisa unsur-unsur tersebut terlihat bahwa seluruhnya lebih merupakan kehendak, kemampuan, sikap, sifat, dan tindakan khas insan, yakni kualitas-kualitas yang terikat dengan eksistensi manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keberhasilan mengembangkan penghayatan hidup bermakna dapat dilakukan dengan jalan menyadari dan mengaktualisasikan potensi berbagai kualitas insan (Bastaman, 1996).

6. Penyebab Timbulnya Makna Hidup
Menurut Frankl (2003), ada 3 penyebab timbulnya makna dalam hidup ini yang dapat membawa manusia kepada makna hidupnya, yaitu :
a. Memaknai Makna Kerja
Menurut Frankl manusia adalah mahluk yang bertanggungjawab dan harus mengaktualkan potensi makna hidupnya. Makna hidup bukanlah untuk dipertanyakan tetapi untuk dijawab, karena kita bertanggung jawab atas hidup ini. Jawaban tidak hanya diberikan dalam kata-kata tetapi yang utama adalah dengan berbuat, dengan melakukan (Frankl, 2003). Aktualisasi nilai-nilai kreatif yang bisa memberikan makna kepada kehidupan seseorang biasanya terkandung dalam pekerjaan seseorang.
Menurut Frankl (2003) pekerjaan memprentasikan keunikan keberadaan individu dalam hubungannya dengan masyarakat dan karenanya memperoleh makna dan nilai. Makna dan nilai ini berhubungan dengan pekerjaan seseorang sebagai kontribusinya terhadap masyarakat dan bukan pekerjaannya yang sesungguhnya yang dinilai. Dalam kasus-kasus dimana pekerjaan yang dimiliki seseorang tidak membawanya kepada pemenuhan diri, maka bukan pekerjaannya yang harus diubah, melainkan sikap orang tersebut dalam dan terhadap pekerjannya.
b. Memaknai makna cinta
Cinta hanyalah cara untuk mencapai keberadaan orang lain pada bagian yang paling dalam dari kepribadiannya. Tak seorangpun dapat menyadari adanya sesuatu yang sangat esensial dari keberadaan orang lain jika dia tidak mencintainya. Dengan bertindak secara spiritual dalam cinta dia dapat melihat ciri-ciri dan bentuk esensial pada orang yang dicintai ; atau lebih dari itu, dia melihat apa yang potensial dari dalam dirinya ; yang belum teraktualisasikan tetapi harus diaktualisasikan. Karenanya, dengan cintanya, seseorang yang sedang mencintai dapat menjadikan orang yang dicintainya mengaktualkan potensi-potensinya dengan membuatnya sadar apa yang bisa dijadikan dan apa dia harus menjadi, dia membuat potensi-potensinya menjadi kenyataan.
Dalam cinta terjadi penerimaan penuh akan nilai-nilai, tanpa kontribusi maupun usaha dari yang dicintainya. Cinta akan mampu memperkaya si pecinta. Cinta mengungkapkan individu untuk melihat inti spiritual orang lain, nilai-nilai potensial dan hakekat yang dimilikinya (Frankl, 2004) cinta memungkinkan kita untuk mengalami kepribadian orang lain dalam dunianya sendiri dan dengan demikian memperluas dunia kita sendiri. Bahkan ketika pengalaman kita dalam bercinta berubah menjadi kisah yang menyedihkan, kita tetap diperkaya dengan diberikan makna yang lebih mendalam akan hidup. Manusia tetap rela untuk menanggung resiko dan mengalami sekian banyak kisah cinta yang menyedihkan asalkan dapat mengalami satu saja kisah cinta yang membahagiakan.
Dalam logoterapi, cinta yang membahagiakan sebagai epiphenomenon keinginan-keinginan seksual dan insting belaka yang dalam perspektif ini disebut juga sebagai sublimasi cinta secara primer adalah fenomena sebagaimana seks. Normalnya, seks adalah bentuk ekspresi cinta. Cinta tidak dapat dipahami sebagai suatu efek samping saja dari seks, namun seks adalah suatu cara pengungkapan pengalaman dari puncak kebersamaan yang disebut cinta.
c. Memaknai makna penderitaan
Kapanpun sesorang bisa berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, situasi yang tak terhindarkan, nasib yang tak bisa berubah, penyakit yang tak terobati ; dengan demikian seseorang itu diberikan kesempatan terakhir untuk mengaktualisasikan nilai tertinggi. Untuk mengisi makna terdalam, yaitu makna penderitaan. (Frankl, 2003)
Penderitaan memberikan suatu makna manakala individu menghadapi situasi kehidupan yang tak dapat dihindari. Hanya bilamana suatu keadaan sungguh-sungguh tidak bisa diubah-ubah dan individu tidak lagi memiliki peluang untuk merealisasikan nilai-nilai kreatif, maka saatnyalah untuk merealisasi nilai-nilai bersikap tiba. Dalam penderitaan individu berada dalam ketegangan atas apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan.

7. Struktur Makna Hidup
Kratochvil (dalam Bastaman 1996) membedakan struktur makna hidup yaitu sebagai berikut :
1. Struktur Paralel
Suatu struktur sistem nilai disebut struktur paralel jika beberapa nilai memiliki bobot sama kuat. Tidak ada yang lebih kuat atau yang lebih lemah. Contoh : orang yang sekaligus mencintai pekerjaanya dan keluarga nya. Struktur ini dianggap lebih sehat karena ketika suatu nilai tidak terpenuhi atau hilang, maka dapat digantikan oleh nilai lain yang setara. Seseorang yang berorientasi pada struktur ini akan menemukan pilihan dan peluang yang lebih banyak dan lebih mudah untuk menghargai pihak lain yang keadaanya berbeda.
2. Struktur Piramidal
Suatu struktur sistem nilai disebut sturktur piramidal jika menempatkan waktu nilai sebagai nilai tertinggi atau tunggal, sedangkan nilai-nilai yang lain memiliki peringkat dibawahnya atau seringkali diabaikan. Contoh : orang yang hanya mencintai pekerjaannya dan mengabaikan kegiatan-kegiatan yang lain. Sistem ini memiliki kelemahan yaitu ketika nilai tertinggi tidak terpenuhi, maka tidak dapat digantikan oleh nilai yang lain sehingga sistem nilai seakan-akan runtuh. Orang yang berpegang hanya pada satu nilai tunggal memiliki kecenderungan untuk fanatik dan memiliki ambang toleransi yang rendah. Seseorang yang berorientasi pada struktur ini sulit untuk memahami perbedaan.

8. Proses Keberhasilan Menemukan Makna Hidup
Bastaman (1996) menyatakan urutan pengalaman dan tahap-tahap kegiatan seseorang dalam mengubah penghayatan hidup tidak bermakna menjadi bermakna adalah proses keberhasilan. Proses keberhasilan menemukan makna hidup dikategorikan menjadi lima kelompok tahapan berdasarkan urutan-urutannya, yaitu :
a. Tahap derita
Pengalaman tragis dan penghayatan hidup tanpa makna.
b. Tahap penerimaan diri
Pemahaman diri dan pengubahan sikap.
c. Tahap penemuan makna hidup
Penemuan makna dan penentuan tujuan hidup.
d. Tahap realisasi makna
Keikatan diri, kegiatan terarah, pemenuhan makna hidup.
e. Tahap kehidupan bermakna
Penghayatan bermakna dan kebahagian.

1 komentar:

  1. Asaalamualaikum mbak,saya mau tanya, sumbernya dari mana? maturnuwun yaa

    BalasHapus