DAFTAR ISI

Jumat, 28 Oktober 2011

RENUNGAN - MAKNA HIDUP HAKIKI
Siapapun yang hidup di dunia ini, semua manusia tiada terkecuali pasti akan mati, lantas apa sebenarnya yang akan dituju oleh manusia di dunia ini. Apa hanya hidup semata-mata untuk bekerja, berumah tangga, bersuka ria, bersenang-senang dengan harta yang dimilikinya, atau hanya bersedih dan berkeluh kesah dalam kemiskinan, kemudian lalu kita mati tidak berdaya ?. Lantas setelah mati kita akan menguap seperti asap dari rokok yang dibakar, hilang entah kemana. Ataukah manusia yang memang dilahirkan dalam ketiadaan itu, akan mati dalam ketiadaan pula ?. Kalau iya, benarkah hidup manusia di dunia ini sia-sia belaka ?.

Tentunya tidaklah demikian, sesungguhnya bahwa manusia akan terus ada dan tidak akan pernah menguap ataupun menghilang, karena manusia akan menjalani kehidupan di akhirat nanti. Dengan demikian maka jelaslah bahwa yang dituju oleh semua manusia adalah akhirat kelak. Suka atau tak suka, lambat atau cepat, mengelak ataupun mengakui, semua manusia pasti akan menuju kesana. Manusia dalam hidupnya selalu merindukan kebahagiaan, sementara banyak persepsi manusia bahwa ia tidak akan pernah mencapai kebahagiaan selama terikat dengan aturan aturan hukum tertentu.

Perjalanan waktu ternyata memutar balikan paham tersebut, bukti sejarah menunjukkan, kebahagiaan yang hakiki ternyata bukanlah berasal dari pola hidup bebas tanpa aturan seperti burung terbang di angkasa, justru diperoleh melalui pola hidup yang konsisten mentaati suatu aturan tertentu, baik aturan yang dihasilkan dari buah karya manusia bijak zaman yang lampau, ataupun bahkan yang dibuat langsung oleh Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini, yang orang meny ebutnya aturan-aturan ini dengan istilah agama. Jadi pada hakikatnya agama adalah suatu pedoman hidup yang menuntun penganutnya untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Yang merupakan langkah awal dalam mencari kebahagiaan, para ahli sependapat bahwa manusia harus mengetahui dan menyadari terlebih dahulu tentang makna keberadaannya di dunia ini. Kitab Suci dari masing-masing agama sebagai pedoman hidup yang diyakininya, menjelaskan tentang konsepsi manusia dengan amat jelas dan gamblang. Manusia adalah makhluk hidup yang diberi kebebasan penuh dalam berprilaku dan bertindak, apakah mau taat atau mau membangkang terhadap aturan main yang sudah ditentukan oleh Kitab Sucinya, tinggal pilih mau kenikmatan surga atau siksa neraka.

Namun dalam kenyataan dan prakteknya, ternyata untuk dapat selalu taat pada aturan agama tidaklah mudah, karena ada dorongan hawa nafsu ataupun rayuan setan yang selalu menggoda. Bila manusia mampu mengendalikan nafsu yang ada pada dirinya masing-masing dan menaklukkan rayuan setan yang selalu mengajak untuk membangkang, maka ia dapat selalu taat melaksanakan aturan agama yang diyakininya. Oleh karena itu manusia perlu berupaya untuk meningkatkan dan mempertebal keyakinannya (keimanannya).

Pengalaman hidup mengajarkan, bahwa keyakinan seperti layaknya anak tangga, tidak datar tetapi bertingkat-tingkat. Sesuai dengan tingkatannya, tergantung bagaimana orang memfungsikan akal dan kalbunya secara optimal dalam upaya menggapai kebenaran dan kebahagiaan yang hakiki. Semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang, semakin tinggi pula ujian yang harus dihalau, ujian terberat bagi kebanyakan manusia adalah yang berkaitan dengan harta dan pangkat. Harta dan pangkat sering dengan mudah membuat manusia terbius, terlena dan terlupa akan tujuan hidupnya yang hakiki di dunia ini.

Bila dilihat dari permukaan saja, dunia ini sangat indah dan mempesona, maka tak heran banyak yang tergiur dan terpedaya olehnya. Padahal kalau kita mau menyelami dan mendalami hakikat yang sebenarnya, maka akan nampak dunia itu tak lain hanyalah panggung sandiwara dan tipuan kosong belaka. Betapa hari ini dibuatnya kita tertawa terpingkal-pingkal, namun esok hari dibuatnya kita menagis tersedu-sedu. Maka barang siapa menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebahagian besar waktu dan tenaganya hanya untuk merengkuh dunia kedalam genggamannya.

Oleh karena itu kita harus segera menyadari, bahwa dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Tuhan untuk ditinggali selamanya, namun hanyalah tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita manuju kampung halaman yang abadi yang telah disediakan Yang Kuasa, yaitu akhirat. Bukankah bagi seorang pengembara itu, kenikmatan adanya di akhir perjalanan ?. Selamat menjalankan ibadah puasa romadhon bagi umat muslim, mohon maaf lahir bathin, semoga segala amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Bagi seluruh rakyat negeri ini, mari kita implementasikan kedamaian dan kerukunan umat beragama di bumi pertiwi tercinta ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar