DAFTAR ISI

Jumat, 28 Oktober 2011

Menemukan Makna Hidup

I. PENDAHULUAN
Pertanyaan tentang “makna hidup manusia” merupakan pertanyaan yang tidak pernah berhenti. Abad demi abad telah berlalu, generasi yang satu telah pergi dan muncullah generasi yang lain, tahun berganti tahun dan bulan terus bergerak maju, namun pertanyaan ini tetap eksis. Mengapa pertanyaan ini demikian penting? Pertanyaan ini penting karena menunjukkan 2 hal: (1) Eksistensi manusia itu sendiri; (2) Pengharapannya di masa yang akan datang. Kedua hal sangat ditentukan oleh perilaku dan hidup seseorang pada masa kini.
Memahami makna hidup manusia tidak akan lepas dari pertanyaan tentang tujuan hidup manusia. Kedua pertanyaan ini sangat berkaitan erat satu dengan yang lain. Apakah yang menjadi tujuan hidup manusia?. Setiap orang pasti memiliki jawaban tentang pertanyaan ini. Entah itu bersifat langsung (maksudnya: ketika pertanyaan ini ditanyakan, seseorang dapat menjawab secara langsung) atau tidak langsung (maksudnya: ketika pertanyaan ini ditanyakan, seseorang masih memikirkan jawabannya). Yang pasti jawaban setiap orang pasti berbeda, sesuai dengan filosofi hidupnya.
Sedikitnya ada 5 filosofi tentang hidup yang berusaha untuk menjawab pertanyaan tentang makna hidup manusia: (1) Ateisme; (2) Eksistensialisme; (3) Nihilisme; (4) Humanisme; (5) Positivisme; kemudian, sebagai suatu usulan dan perbandingan untuk menjawab “makna hidup manusia”, maka penulis mengusulkan pandangan Kristen tentang makna hidup manusia. Biarlah pembahasan ini dapat menambah wawasan bagi para pembaca dan mendorong mereka untuk menemukan dan memutuskan filosofi hidup yang tepat untuk membangun hidup yang lebih baik dan memuliakan nama Allah Tritunggal.


II. FILSAFAT TENTANG HIDUP
Sebagaimana telah dituliskan bahwa setiap manusia memiliki filosofi tentang hidup. Filosofi inilah mendorong munculnya segala perilaku dan tindakan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Segala sesuatu yang dipikirkan seseorang mengenai hidup, yang ada di dalam pikirannya, akan teraplikasi di dalam perilaku dan tutur katanya. Semuanya ini berlangsung di dalam suatu proses hidup dalam kehidupan seseorang. Untuk memahami ini, ada baiknya memahami beberapa filsafat hidup yang berkaitan dengan topik yang dibahas:

1. Ateisme
Secara umum, ateisme dimengerti sebagai penolakan terhadap Allah. Para ateis tidak mau mengakui adanya Allah yang berkuasa di dalam alam semesta dan yang menciptakan segala sesuatu, termasuk hidup manusia. Para ateis tidak percaya, bahwa Allah mengatur segala sesuatu di dalam alam semesta sesuai dengan hukum-hukum-Nya. Mereka juga menolak pandangan manusia diciptakan oleh Allah. Manusia hidup dan berkembang sesuai dengan naturnya, tanpa adanya campur tangan ilahi.
Ateisme meyakini pada pada mulanya alam semesta ini adalah satu dan Allah tidak ada di dalamnya. Dunia ini berevolusi dan membentuk bagian-bagiannya serta segala aturan yang menyertainya, demikian juga dengan manusia. Allah tidak menciptakan manusia, oleh karena itu manusia tidak dapat bergantung kepada Allah dan tidak membutuhkan Allah. Makna dan tujuan hidup manusia menurut para ateis adalah melakukan sesuatu sebagaimana yang diinginkan. Tidak peduli apakah itu baik atau buruk. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan aturan bagi dirinya sendiri (dengan kata lain: tidak mengikuti seluruh hukum, norma dan aturan yang berlaku baku – semua bergantung kepada penilaian pribadi).
Sebagai salah satu contoh: “pornografi, pornoaksi, selingkuh, perzinahan.” Bagi masyarakat, tindakan da perilaku seperti ini melanggar etika, norma dan hukum. Namun bagi para Ateis hal ini tidak dianggap sebagai “pelanggaran”, melainkan sebagai kesenangan pribadi dan keilamiahan hidup yang terjadi di dalam proses kehidupan seseorang, selama ia hidup di dunia.
Kelemahan dari Ateisme adalah (1) Ateisme bertentangan dengan fakta hakekat manusia, di mana sosiologi, antropologi dan psikologi telah menyatakan bahwa manusia mempunyai kebutuhan akan Allah atau suatu mahluk yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. (2) Ateisme tidak dapat menjelaskan soal nilai-nilai moral manusia.

2. Eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan gerakan yang bersifat filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Eksistensialisme didefinisikan sebagai usaha untuk memfilsafatkan sesuatu dari sudut pandang pelakunya, di bandingkan cara tradisonal, yaitu dari sudut penelitinya. Eksistensialisme memberi perhatian terhadap masalah-masalah kehidupan manusia modern. Eksistensialisme menekankan tema eksistensi pribadi yang dibandingkan dengan eksistensi manusia secara umum, kemustahilan hidup dan pertanyaan untuk arti dan jaminan kebebasan manusia, pilihan dan kehendak, pribadi yang terisolasi, kegelisahan, rasa takut yang berlebihan dan kematian.
Kierkegaard seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme yang terkenal abad 19 berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti hidup sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Jean-Paul Sartre filsuf lain dari Eksistensialisme berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah mahkluk eksistensi, memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Tidak ada natur manusia, karena itu tidak ada Allah yang memiliki tentang konsepsi itu. Jean-paul Sartre kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun, namun dia dapat membuat sesuatu bagi dirinya sendiri.
Penekanan dari Eksistensialisme adalah bahwa seseorang dapat menilai dan menetukan sesuatu oleh tindakannya dan pilihannya sendiri (tidak bergantung dari standard moral yang berlaku baik secara tertulis ataupun secara lisan). Dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
Sebagai salah contoh dalam perilaku sehari-hari: “narkoba dan free sex.” Dalam masyarakat, jelas narkoba dan free sex itu adalah pelanggaran. Baik pilihan atau tindakan seseorang yang terlibat dalam narkoba dan free sex, itu jelas melanggar norma, moral dan hukum. Tidak ada masyarakat yang melegalkan semua tindakan ini. Namun bagi penganut eksistensialist bukan “narkoba dan free sex” yang menjadi problemnya, tetapi pilihan seseorang. Pilihan ini akan mendorong lahirnya tindakan seseorang. Jika seseorang menilai “narkoba dan free sex” itu adalah positif (maksudnya: mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri, membuat manusia melupakan segala problem hidupnya, membuat lapangan pekerjaan, karena banyaknya pengangguran, dlsb), maka “narkoba dan free sex” akan dilakukan. Akan tetapi sebaliknya jika hal ini dianggap negatif, maka itu tidak akan dilakukan. Yang jelas, pilihannya menjadi faktor penentu lahirnya tindakan seseorang.
Kelemahan dari eksistensialisme: (1) Eksistensialisme mengingkari fakta bahwa manusia harus hidup bersosialisasi dengan manusia lainnya dalam hubungan bermasyarakat; (2) standar moralitas (benar atau salahnya) perilaku seseorang dalam masyarakat, bukan ditentukan oleh pribadi seseorang, melainkan norma, aturan atau hukum yang menjadi kesepakatan di dalam masyarakat itu; (3) Eksistensialist mengabaikan nilai-nilai moralitas secara objektif.

3. Nihilisme
Nihilisme adalah paham yang dianut oleh filsuf Friederich Nietzsche and Camus. Nietzsche dianggap sebagai filsuf yang berpengaruh dalam paham ini. Secara umum, paham ini menolak adanya Allah yang berkuasa dalam menciptakan alam semesta dan berusaha untuk menghilangkan eksistensi dunia ini, secara khusus eksistensi manusia tentang makna, tujuan, kebenaran yang komprehensif dan nilai yang esensial. Paham ini menganggap bahwa manusia tidak diciptakan oleh Tuhan, tetapi melalui evolusi dari seekor kera. Paham ini percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, yang ada hanyalah hasrat untuk bertahan hidup.
Ada 2 argumentasi utama dari para Nihilist yang mendasari filsafatnya: (1) Bahwa Allah telah mati; (2) tidak mengakui eksistensi dari nilai(01). Dengan kedua argementasi ini, para Nihilist menolak tentang makna dan tujuan hidup manusia. Mottonya: Jika Allah telah mati, lakukanlah sesuatu yang anda kehendaki (= If God is dead, do whatever you please). umumnya para filsuf berpendapat sama, bahwa pandangan Nihilisme mirip (atau bahkan sama) dengan paham Ateis, yang menolak keberadaan Allah. Paham ini juga, memiliki kesamaan yang menekankan bahwa segala perilaku seseorang sangat bergantung kepada dirinya sendiri.
Kelemahan dari paham Nihilist adalah bahwa Nihilist tidak memiliki pertanggung jawaban secara moral untuk segala perilaku yang dilakukan, khususnya berkaitan dengan hal-hal negatif.

4. Humanisme
Humanisme merupakan suatu paham filsafat yang memiliki akar yang sama dengan Ateisme. Humanisme menganggap bahwa: (a) manusia sebagai individu rasional yang paling tinggi keberadaannya. (b) manusia sebagai sumber nilai terakhir. (c) mengutamakan perkembangan kreatifitas dan moralitas individu secara rasional dan menolak dihubungkan dengan sesuatu yang adikodrati. Humanisme memandang bahwa manusia sebagai ukuran atau kaidah dari segala sesuatu. Ini berarti menarik diri mundur dari Allah dan secara langsung dapat dikatakan, paham ini menolak Allah yang maha kuasa. Meskipun pada permulaannya, penganut paham ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah, namun mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.
Di dalam sejarah filsafat, Protagoras seorang filsuf Yunani yang mengemukakan ide, bahwa manusia sebagai ukuran untuk segala sesuatu. Protagoras secara tidak langsung menolak adanya intervensi adikodrati. Pada sekitar abad ke-15 filsuf Italia, Giovanni Pico Della Mirandola, menekankan idenya tentang manusia humanis. Dia merumuskan: Di tengah dunia ini, Allah meletakkan manusia, tanpa tempat yang tetap, tanpa pembentukan yang tetap, tanpa karya yang tersendiri seperti Dia membagikan kepada semua mahkluk lain. Manusia diciptakan tidak bersifat duniawi maupun surgawi. Dia dapat turun nilainya dan berubah seperti binatang, tetapi dia juga dapat naik ke surga – semuanya terletak pada kehendaknya sendiri. Manusia diberi wewenang memiliki apa yang ia mau, dan menjadi apa yang ia ingin berada. Konsep ini sangat mempengaruhi para penganut paham Humanisme di abad-abad yang kemudian.
Kelemahan dari paham Humanis adalah (1) justifikasi suatu kebenaran, etika dan norma yang berlaku bagi masyarakat adalah pada diri pribadi seseorang. Padahal realitanya suatu kebenaran, etika dan norma sangat ditentukan oleh masyarakat dengan mempertimbangkan suatu hukum (tertulis/lisan) dengan kebiasaan dan budaya yang telah menjadi “konsensus” bersama. (2) kelemahan yang lain mirip dengan Eksistensialisme dan Nihillisme.

5. Positivisme
Positivisme merupakan gerakan anti metafisika di dalam filsafat. Filosofi ini berakar kuat di Inggris. Akar dari Inggris adalah skeptisisme empiris dari David Hume di abad ke-18. prinsip verifikasi merupakan senjata utama dari paham ini. Mereka lebih menekankan penggunaan bahasa daripada sebuah pertanyaan. Salah satu tokoh dari paham ini adalah Ludwig Wittgenstein.
Positivisme memandang bahwa manusia dapat memiliki arti hidup. Hal ini sangat penting. Namun hidup itu sendiri tidak memiliki arti dari hal-hal yang ada. Manusia bisa memiliki keluarga, pekerjaan dan segala aktifitas yang lain, namun dibalik itu manusia memiliki lebih dari atau kurang dari itu. Paham ini juga menekankan bahwa karena bahasa tentang Allah, manusia dan kerusakkannya (keberdosaannya) tidak dapat diuji, maka itu tidak bermakna atau artinya beda dari maksud si pembicara. Hal ini menyiratkan bahwa pada dasarnya manusia tidak seperti dikatakan oleh bahasa agama – telah rusak (mengalami keberdosaan). Pernyataan ini bergantung kepada siapa yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Di sisi lain memahami kebenaran dan kesalahan bukan pada realitasnya, tetapi pada siapa yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Secara tidak langsung, paham ini mengaburkan fakta dan menonjolkan simbolisme.
Sebagai contoh: hukum, etika dan norma yang menjadi konsensus bersama di dalam masyarakat . Jika seseorang menyatakan kebenaran atau kesalahan sesuai dengan hukum, etika dan norma yang berlaku, baik secara tertulis ataupun secara lisan, hanya dipandang sebagai simbol saja. Dilakukan atau tidak dilakukan tergantung kepada siap yang berbicara dan siapa yang mendengarkan. Ini merupakan pengingkaran atas realitas hidup manusia sesungguhnya.
Kelemahan dari paham Positivisme ini adalah (1) tidak adanya objektifitas untuk menentukan hukum, etika dan norma di dalam masyarakat. (2) realitas dipandang tidak lebih dari sekadar simbol, tergantung siapa yang berbicara dan mendengarkan. (3) secara tidak langsung menolak Allah di dalam arti yang sesungguhnya, dan menerima Allah di dalam simbolisme yang berkaitan dengan sesuatu.


III. PANDANGAN KEKRISTENAN TENTANG HIDUP
Kekristenan memberikan suatu pandangan yang berbeda tentang hidup manusia. Jikalau para filsuf (dan para penganut filsafat) melihat hidup manusia berawal dari dirinya sendiri, maka kekristenan melihat bahwa hidup itu dimulai dengan Allah. Para filsuf melihat makna dan tujuan hidup manusia berasal dan berakhir di dalam manusia itu sendiri. Namun kekristenan melihat makna dan tujuan hidup berawal dan berakhir di dalam tujuan dan rencana Allah.

1. Data-Data Kitab Suci
Alkitab memberikan penegasan penting berkaitan dengan makna dan tujuan hidup manusia. Oleh karena itu, setiap orang percaya perlu menemukan akan kebenaran ini. Untuk dapat memahami makna dan tujuan hidup manusia, maka ada 2 hal penting yang harus diperhatikan:
a. Tentang Allah dan Keberadaan-Nya
Alkitab memberitahukan bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta. Kenyataan ini menuntun orang Kristen untuk percaya keberadaan Allah dan apa yang dilakukan Allah untuk mengatur alam semesta sebagaimana yang dinyatakan oleh Alkitab.

i. Keberadaan Allah menurut Alkitab
Dalam bagian ini berusaha untuk mengungkapkan Allah ada sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab. Kejadian 1:1 mengasumsikan adanya Allah; Mazmur 14:1; 51:1 mengecam orang yang tidak percaya adanya Allah; Mazmur 19:1 menunjukkan bahwa alam semesta ini mengindikasikan adanya Allah; Kisah Para Rasul 14:17 kesaksian dari rasul yang menyatakan bahwa Allah memang ada; Roma 1:19-21 mengatakan bahwa Allah ada; Roma 8:15-16 menyatakan secara tidak langsung bahwa Allah memang ada, melalui kesaksian Roh Kudus; serta masih banyak lagi kesaksian dari para rasul dan nabi, baik PL dan PB bahwa Allah memang ada.

ii. Allah Menciptakan Alam Semesta
Kejadian 1-2 menjelaskan bahwa Allah menciptakan alam semesta beserta segala isinya: Kenyataan bahwa Allah menciptakan alam semesta beserta dengan isinya dan manusia, juga diperkuat dengan kesaksian Daud dalam Mazmur 8:4-10. Hari pertama, Allah menciptakan terang (Kejadian 1:3-5); Hari kedua, Allah menciptakan cakrawala (Kejadian 1:6-8); Hari ketiga, Allah menciptakan laut, darat, dan tumbuhan (Kejadian 1:9-13); Hari keempat, Allah menciptakan matahari, bulan dan bintang (Kejadian 14-19); Hari kelima, Allah menciptakan burung, dan ikan (Kejadian 1:20-23); Hari keenam, Allah menciptakan binatang darat dan manusia (Kejadian 1:24-31); Hari ketujuh, Allah berhenti dan menguduskan ciptaan-Nya (Kejadian 2:1-3)

iii. Allah Memerintah dan Mengatur Alam Semesta
Allah tidak saja, hanya menciptakan alam semesta beserta dengan segala isinya, melainkan Allah juga mengatur alam semesta ini, sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya. Grudem, memberikan penjelasan mengenai providensi Allah terhadap alam semesta ciptaan-Nya, demikian: Allah terlibat secara terus-menerus di dalam semua hal yang diciptakan, sebagai mana Dia (1) menjaga eksistensi ciptaan dan memelihara milik-Nya, yang diciptakan-Nya; (2) bekerjasama dengan ciptaan-Nya di dalam setiap tindakan, bertindak langsung sehingga menyebabkan mereka bertindak sebagaimana yang dilakukan; (3) memerintahkan mereka untuk menggenapi rencana-Nya.(02) Alkitab memaparkan sejumlah data tentang pemeliharaan Allah atas alam semesta beserta segala isinya, demikian:
Pemeliharaan Allah atas ciptaan dan dunia: Kejadian 41:32; Keluaran 9:26; Ayub 37:6-13; 38:12; Yesaya 40:12; Amos 4:7 ; Nahum 1:3 ; Matius 5:45; Kisah Para Rasul 14:17, dst; Pemeliharaan Allah atas binatang ciptaan-Nya: Kejadian 31:9; Ayub 38:39-41; Mazmur 104:21; Daniel 6:22 ; Matius 5:26; 10:29, dst; Pemeliharaan Allah atas bangsa-bangsa: Yosua 21:44; I Tawarik 16:31; Mazmur 33:10; 47:7; Daniel 2:21; 4:17 ; Yesaya 40:15; Amos 3:6 , dst; Pemeliharaan Allah yang mengontrol manusia individu: Keluaran 11:7; Ezra 8:31 ; Nehemia 4:15; Mazmur 34:7; 37:23; 118:6; Amsal 16:9; 21:1; Yesaya 64:8; Daniel 3:17 ; Roma 11:36; I Korintus 14:7; Yakobus 4:15, dst; Pemeliharaan Allah menyangkut hidup manusia: Ayub 14:5; Mazmur 139:16; Amsal 20:24; Yeremia 1:5; 10:23; Matius 6:11; Kisah Para Rasul 17:28; Galatia 1:15; Filipi 4:19, dst.

b. Tentang Manusia
Allah tidak saja, menciptakan alam semesta serta dengan segala isinya, tetap juga Alkitab melaporkan bahwa puncak dari seluruh ciptaan Allah, dengan menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan Allah (= image of God). Kejadian 1: 26-27 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Apakah maksudnya manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah? Manusia diciptakan “segambar dan serupa” dengan Allah bukan dalam arti fisiknya manusia. Segambar dan serupa dengan Allah adalah sesuatu yang Allah berikan kepada manusia pada waktu penciptaan pertama, yaitu: Pengetahuan – menunjuk kepada pengetahuan dan pengenalan tentang Allah; Kebenaran – menunjuk kepada kebenaran moral; Kekudusan – menunjuk kepada kesalehan terhadap Allah. Ketiga image Allah yang ditempatkan di dalam diri manusia bukanlah menunjuk kepada hal-hal yang bersifat etis, melainkan menunjuk kepada hubungan yang benar antara manusia dengan Allah dan sesamanya.(03)
Kejatuhan manusia dalam dosa, sebagaimana dicatat di dalam kejadian 3, menyebabkan “image of God” menjadi rusak. Pengetahuan dan pengenalan manusia tentang Allah menjadi rusak, kebenaran dan kekudusan manusia menjadi terdistorsi oleh dosa.(04) Kecenderungan manusia untuk terus hidup di dalam dosa, membuatnya semakin jauh terpisah dari Allah.
Selain itu hubungan manusia dengan sesamanya menjadi rusak. Manusia berdosa, hidup di dalam dosa-dosanya, percideraan, pertengkaran, penganiayaan dan bahkan pembunuhan terjadi di antara sesama manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak lagi memandang manusia lainnya sebagai ciptaan Allah. Manusia yang tanpa perasaan dan hati nurani melakukan itu semua untuk kepentingan dan kepuasaan pribadi.
Hubungan yang retak karena dosa ini tidak hanya terjadi di antara manusia dengan Allah dan sesamanya, tetapi juga dengan alam sekitarnya. Manusia tidak lagi mencintai alam ciptaan Tuhan, melainkan merusaknya demi kepentingan dan keuntungan pribadi. Akibatnya manusia menuai badai. Alam menjadi “marah” manusia menanggung kepahitan dan penyesalan. Banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya menghancurkan hidup manusia. Yang tersisa hanya tangisan dan kesedihan. Inilah akibat dari “image of God” yang telah terdistorsi oleh dosa. “Image of God” ini hanya dapat dipulihkan melalui satu-satunya jalan keselamatan di dalam dan melalui Yesus Kristus.

2. Filsafat yang Berakar Pada Kebenaran Allah
a. Keberadaan Allah
Filsafat Kristen mengakui, bahwa Allah itu ada. Keberadaan Allah ini diungkapkan dengan berbagai macam teori. Di dalam topik ini ada 5 argumentasi yang dapat mengungkapkan tentang keberadaan Allah,(05) baik itu secara rasional, maupun berdasarkan bukti dari alam semesta:

i. Argumentasi Kosmologis
Argumentasi Kosmologis berusaha untuk membuktikan keberadaan Allah dengan keberadaan dunia ini. Argumentasi ini berpendapat: (a) segala sesuatu yang ada di dalam dunia mempunyai penyebab yang sesuai; (b) jika demikian, alam semesta ini mempunyai yang sesuai; (c) penyebab itu harus lebih besar dari alam semesta; pemikiran ini mendorong seseorang untuk menyimpulkan bahwa itu Allah. Jadi Allah memang ada.

ii. Argumentasi Teleologis
Argumentasi Teleologis berusaha untuk membuktikan tentang keberadaan Allah melalui hubungan sebab akibat. Argumentasi ini pada dasarnya merupakan perluasan dari argumentasi kosmologis tentang keberadaan Allah. Argumentasi ini berpendapat bahwa: (a) alam semesta diatur dan disusun sesuai dengan tatanan, keserasian dan tujuannya; (b) hal ini menunjuk kepada suatu keberadaan yang berpikir dan bertujuan yang mampu menghasilkan alam semesta yang demikian; pemikiran ini mengajak seseorang untuk berpikir tentang keberadaan yang sempurna, yaitu Allah. Jadi dapat disimpulkan bahwa Allah memang ada.

iii. Argumentasi Moral
Argumentasi Moral berusaha untuk membuktikan Allah melalui moralitas manusia. Argumentasi ini sangat berkaitan dengan argumentasi sebelumnya. Argumentasi Mo ral, memiliki pandangan: (a) manusia memiliki kesadaran moral tentang benar dan salah; (b) kenya taan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dengan kesadaran moral yang tinggi; hal ini menunjuk kepada pribadi di luar manusia, yang lebih tinggi dari manusia. Dialah, Allah. Kesimpulannya bahwa Allah itu ada.

iv. Argumentasi dari Mujizat-Mujizat
Argumentasi ini berusaha untuk membuktikan Allah dari kejadian-kejadian irasional yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Argumentasi ini berpendapat bahwa (a) mujizat adalah suatu peristiwa yang hanya dapat dijelaskan oleh karena intervensi langsung dari pribadi di luar manusia; (b) ada banyak mujizat yang benar-benar terjadi di dalam sejarah manusia; (c) karena itu, ada banyak peristiwa yang hanya dapat dijelaskan sebagai intervensi langsung dari pribadi di luar manusia; Ini mendorong seseorang untuk bertanya siapakah pribadi itu? Jawabannya adalah ALLAH. Jadi Allah memang ada!

v. Argumentasi dari Kebenaran
Argumentasi ini berusaha untuk membuktikan keberadaan Allah dari sisi kebenaran. Argumentasi ini berhubungan erat dengan argumentasi mengenai kesadaran. Argumentasi ini berpendapat bahwa (a) Pikiran-pikiran kita terbatas dpaat menemukan kebenaran-kebenaran kekal mengenai keberadaan; (b) kebenaran semestinya berdiam dalam pikiran; (c) Nam un pikiran manusia itu tidak kekal; (d) Karena itu, pasti ada suatu pikiran yang kekal di mana kebenaran-kebenaran itu berdiam; Pemikiran ini menunjuk kepada Allah yang memiliki pikiran kekal, di mana terdapat kebenaran-kebenaran itu. Jadi kesimpulannya: Allah itu ada.

b. Allah Adalah Pencipta dan yang Memelihara(06) Ciptaan-Nya
Jika Allah ada, maka Dia adalah satu-satunya pribadi yang menciptakan segala sesuatu. Kesimpulan itu bukan didasarkan kepada pengakuan dari suatu kredo yang buta, atau perkiraan yang tidak pasti dari suatu hitungan matematis, atau penelitian ilmiah, melainkan dari fakta-fakta dan kenyataan bahwa Allah memang ada, baik itu dinyatakan melalui alam semesta, manusia, atau sifat-sifat, nilai estetika serta wahyu khusus [Yesus Kristus dan Alkitab] dari Allah sendiri, yang diamati, dialami, diteliti dan diyakini oleh seseorang.
Seseorang tidak dapat menghindari penyataan bahwa “Allah ada” hanya karena tidak dapat melihatnya dalam bentuk yang kelihatan dan dapat dinilai dengan akal. Allah memang ada karena Dia adalah keberadaan yang eksis. Segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini ditentukan oleh keberadaan-Nya. Allah tidak dapat mati atau hilang/lenyap. Sumber dari semua keberadaan di dalam dunia adalah diri-Nya sendiri dan segala hal yang terkait dengan diri-Nya sendiri.
Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya untuk kemuliaan dan keagungan diri-Nya. Allah tidak menciptakan segala sesuatu demi kepentingan ciptaan-Nya. Ia menciptakan segala sesuatu memiliki rencana dan tujuan, sesuai dengan apa yang diinginkan dan dikehendaki-Nya. Abraham Kuyper dengan tepat menjelaskan bahwa “Allah ada bukan karena demi ciptaan-Nya, tetapi sebaliknya ciptaan ada karena demi Allah. Karena sebagaimana Alkitab katakan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu bagi diri-Nya sendiri”.(07) Allah menciptakan alam semesta beserta segala isinya dengan standar Allah, yaitu: “Baik adanya”. Suatu kata yang menunjukkan kualitas dari ciptaan yang diciptakan oleh-Nya.
Allah tidak saja menciptakan alam semesta ini dan membiarkan begitu saja (sebagaimana paham Deisme) atau Dia [Allah] menciptakan dunia ini, tetapi tidak mempu mengaturnya (sebagaimana paham Penentheisme). Allah yang diyakini dan dipercaya di dalam kekristenan adalah Allah yang menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta, termasuk seluruh kehidupan manusia, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan oleh-Nya.
Di dalam mengatur segala ketentuan-Nya untuk menopang alam semesta ini, tidak pernah ketentuan-ketentuan-Nya bertentangan satu dengan yang lain. Segala sesuatu berjalan selaras, sesuai dengan peran dan fungsi-Nya masing-masing. Mengapa demikian? Karena Allah yang mengatur dan memelihara dunia ini dengan hikmat-Nya yang kekal, sehingga tidak ada satupun ketentuan-Nya yang saling bertentangan. R.C. Sproul menuliskan hal ini dengan tepat: Allah tidak pernah membuat kesalahan untuk mengatur alam semesta ciptaan-Nya. Dia menopang apapun yang ada di dalam dunia ini dengan kesempurnaan ketetapan-Nya, karena Dia menopang sesuai dengan kesempurnaan hikmat-Nya.(08)
Pemerintah-pemerintah yang berkuasa dan yang mengatur segala kehidupan manusia, juga ditentukan oleh Allah. Allah yang membangkitkan raja-raja yang memimpin dunia ini, Dia menetapkan kekuasaan dan hidup mereka. Dia juga yang menurunkan raja-raja dan menetapkan batas kekuasaan mereka. Sejarah kehidupan manusia ada di dalam tangan-Nya dan ditentukan oleh-Nya. Semua terencana dan terjadi secara sempurna di dalam providensi-Nya. Sproul menuliskan demikian: Allah adalah raja tertinggi yang memerintah alam semesta. Dia tidak saja memerintah alam semesta dengan hukum-hukum-Nya, dia juga mengatur manusia yang ada di dalam dunia. Dia mengatur bintang-bintang dan burung-burung yang terbang sebagaimana mereka berpindah. Dia juga yang mengatur sejarah kehidupan manusia. Dia yang membangkitkan kerajaan dan kekuasaan serta Dia jugalah yang menurunkan kerajaan dan kekuasaannya. Tidak ada satupun raja yang meninggikan kekuasaannya melebihi providensi Allah.(09)
Lebih daripada itu, kehidupan manusia setiap pribadi juga dalam providensi Allah. Segala sesuatu yang dialami oleh manusia diijinkan Tuhan terjadi di dalam hidupnya, baik –buruk, suka-duka semuanya telah diatur oleh Dia. John Calvin menuliskan bahwa: tanpa providensi yang jelas, hidup manusia tidak dapat ditopang, ia menyaksikan sejumlah bencana umum yang dialami manusia dan bertanya kepada kami bagaimana kami mungkin dapat tahan terhadap penderitaan tanpa mengenal bahwa Allah mengontrol segala sesuatu.(10)

c. Manusia Ciptaan Allah
Kekristenan meyakini bahwa puncak segala ciptaan Allah adalah dengan diciptakannya manusia. Manusia menjadi mahkota bagi ciptaan Allah, karena manusia diciptakan “segambar” dan “serupa” dengan Allah. Allah menciptakan manusia bukan karena manusia menjadi terlalu berharga bagi diri-Nya, atau menjadi partner Allah dalam memerintah dan mengatur dunia ini, melainkan untuk keagungan dan kemuliaan-Nya.
Jikalau Allah menciptakan alam semesta sesuai dengan firman-Nya dengan standar Allah yang baik, maka penciptaan manusia berbeda sekali. Allah menciptakan manusia melalui musyawarah ilahi. Kemudian Allah membentuk manusia sesuai “image of God” dengan suatu nilai: “Sungguh amat baik” (bnd. Kej.1:26-27, 31). Konsep “sungguh amat baik” ini harus dimengerti dalam arti: menunjuk kepada eksistensi dari apa yang diciptakan Allah dengan segala perbedaan mereka.(11)
Manusia yang diciptakan Allah berasal dari debu tanah. Kemudian Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, maka manusia itu menjadi hidup. Manusia pertama disebut Adam. Allah menempatkan manusia itu di dalam taman Eden bersama dengan ciptaan lainnya. Namun dalam pandangan Allah, tidak baik bahwa Adam sendiri. Allah tidak menemukan pasangan hidup yang sepadan dengan Adam di dalam taman itu, maka Allah menciptakan Hawa sebagai pasangan hidup Adam yang diambil melalui rusuk Adam. Sejak saat dimulailah sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini.
Allah tidak hanya menciptakan Adam dan Hawa, namun Allah memberikan tugas kepada manusia pertama itu untuk menjadi co-partner Allah dalam memelihara dan mengelola bumi (Kej.1:28-30). Allah juga memerintahkan manusia untuk membentuk hidup dalam ikatan keluarga. Secara tidak langsung hal ini mengajarkan tentang 2 hal penting: (1) perkawinan ditetapkan oleh Allah (bnd. Kej. 2:22-24) dan (2) perkawinan bersifat monogami – Allah memberi Adam satu istri saja.(12) Allah juga memberikan segala kecukupan (= makanan) untuk hidup manusia di dalam taman Eden. Namun, di samping itu semua, Allah juga memberikan suatu hukum yang tidak dapat dilanggar oleh manusia, bahwa buah yang ada di tengah-tengah taman itu tidak boleh di makan. Jika ini dilakukan maka manusia akan mati. Keserakahan, keangkuhan dan kebodohan manusia, membuatnya jatuh ke dalam dosa. Ular yang ditempatkan di dalam taman itu menjadi sarana untuk mengungkapkan keserakahan, keangkuhan dan kebodohan manusia. Keberdosaan manusia membuat hidupnya terkutuk penuh dengan penderitaan. Keberdosaannya membuat manusia jauh dari Allah. Manusia terpisah dari Allah, Allah juga memisahkan diri dari manusia oleh karena kemahasucian Allah tidak mengijinkan-Nya untuk bersama-sama dengan dosa. Untuk sementara waktu manusia hidup di bawah kutukan dan penghukuman karena dosa.
Allah menyatakan belas kasihan-Nya kepada manusia dengan menyatakan hukum-hukum-Nya (baca: 10 Hukum Taurat), namun keberdosaannya menyebabkan manusia tidak dapat memenuhi hukum-hukum Allah tersebut. Para nabi terus berusaha menyatakan belas kasihan Allah melalui ketaatan kepada hukum-hukum-Nya. Seruan demi seruan dikumandangkan oleh para nabi agar mereka, yang dikatakan sebagai umat-Nya, jangan berbuat dosa lagi dan kembali kepada-Nya, dengan cara menerapkan dan melaksanakan segala hukum-hukum-Nya. Nam un fakta berbicara lain, semakin umat Allah melakukan hukum-hukum-Nya, maka semakin dalam mereka mengenal dan terjerumus ke dalam dosa. Ketidakmampuan umat-Nya untuk taat kepada-Nya, menyebabkan Allah harus menyelesaikan masalah dosa dengan cara-Nya sendiri.
Oleh karena kasih dan kebenaran Allah, maka problem dosa yang seharusnya menjadi tanggungan manusia, ditanggung oleh Allah. Allah mengutus putra-Nya menjadi manusia dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia, sebagai Allah dan manusia ia dapat meredam murka-Nya sekaligus membawa manusia kembali kepada-Nya. Inilah jawaban dari pergumulan para pemikir dan teolog Kristen, ketika bertanya: Mengapa Allah menjadi manusia?(13) Hubungan manusia dengan Allah pulih kembali setelah Kristus menyelesaikan tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Ia tidak mati selamanya. Ia bangkit dari kematian, hidup, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah, sesuai dengan kredo-kredo dari setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dengan hidup-Nya, Dia (Yesus Kristus) membuat hidup lebih berarti. Dengan hidup-Nya, mereka yang hidup di dalam-Nya memiliki pengharapan untuk hidup benar dan bertanggung jawab. Mereka yang telah percaya kepada Kristus dan hidup di dalam kebenaran Kristus sudah pasti memiliki makna dan tujuan hidup yang sejati.


IV. MEMILIH FILOSOFI HIDUP
Melihat berbagai filosofi yang telah dipaparkan di atas, muncul suatu pertanyaan penting: Bagaimana memilih suatu filosofi hidup yang benar? Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menganalisa dan mempertimbangkan suatu yang baik dan bermanfaat yang dapat diterapkan di dalam kehidupan setiap hari. Allah juga telah memberikan tuntunan moralitas melalui hati nurani manusia. Allah juga memberikan kebenaran-kebenaran umum yang dipahami, diterima dan diterapkan di dalam masyarakat itu sendiri, yang berhubungan dengan sesamanya. Oleh karena itu hal-hal ini menjadi “rambu-rambu” yang penting sekali untuk memilih dan menentukan filosofi hidup yang benar dan bertanggung jawab.
Ada beberapa Kriteria penting bagaimana memilih dan menentukan filosofi hidup: (1) Relevansi, maksudnya bahwa suatu filosofi hidup harus dapat menjawab permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan seseorang, yang bersifat horisontal dan vertikal. Filosofi hidup yang tidak dapat menjawab permasalahan seseorang, akan mengakibatkan disfungsi yang merusak hubungan seseorang dengan sesamanya, baik secara horizontal maupun vertikal. (2) Konsisten, maksudnya ajaran-ajaran dari suatu filosofi hidup tidak boleh saling bertentangan, terutama dengan moralitas, norma dan etika manusia. Selain itu ajaran-ajaran ini tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran umum yang diterima dan diberlakukan di masyarakat. (3) Aplikatif, maksudnya suatu filosofi hidup harus mampu diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi yang terlalu idealis tidak mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


V. TANTANGAN BAGI ORANG KRISTEN
Di dalam relasinya dengan orang lain di berbagai bidang, tidak sedikit orang-orang Kristen yang menggunakan filosofi di atas (maksudnya: filosofi hidup sekuler), baik dengan satu kesadaran yang jelas bahwa hal itu bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, maupun tidak. Ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi mereka yang ingin hidup di dalam iman yang benar di tengah dunia yang tidak jelas arah dan tujuannya (= chaos). Jika seseorang ingin menemukan makna hidup sesungguhnya, hal itu bukan terletak pada materi (=harta, kedudukan, prestise dan kepuasan hidup di dalam dunia) ataupun sejumlah pandangan filsafat sebagaimana telah diungkapkan pada halaman-halaman sebelumnya, tetapi sesungguhnya terletak di dalam Kristus Yesus.
Ada banyak orang memiliki harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi dengan segala prestise yang mengikutinya, namun hidupnya hampa, tidak berarti dan kosong. Ia tidak dapat menikmati hidup yang sesungguhnya! Ini menjadi contoh yang buruk bagi mereka yang mengejar segala kenikmatan dan kepuasan duniawi. Ada banyak orang yang juga memiliki filosofi hidup duniawi sebagaimana diyakini oleh para filsuf, namun mereka tidak menemukan “damai sejahtera” di dalam kehidupan mereka. Hidup mereka serasa tidak berguna dan putus asa.
Belajarlah dari Paulus seorang yang sangat berpengaruh pada masa itu, kedudukan dan prestise yang tinggi. Seorang yang sangat dihormati oleh para pemuka agama, karena memiliki pemahaman filsafat yang mengagumkan dan memiliki hubungan dekat dengan para pejabat di dalam pemerintahan Romawi, sekaligus seorang eksekutor yang sangat ditakuti oleh orang Kristen mula-mula, namun BERUBAH setelah menemukan makna hidup sesungguhnya di dalam Kristus. Paulus berkata demikian: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Filipi 3:7-9). Ini menjadi awal dari suatu titik balik sebuah hidup yang berorientasi dari dunia (worldly oriented) kepada hidup yang berorientasi di dalam Kristus (Christ oriented). Itu sebabnya seluruh fokus hidup Paulus diletakkan di dalam Kristus dan melayani-Nya (Filipi 1:21-22).


VI. KESIMPULAN
Apa yang harus diputuskan saat ini? Adalah menemukan makna hidup yang tepat. Diharapkan bahwa dengan menemukan makna hidup yang tepat, maka orang percaya dapat menikmati kehidupan yang benar dan bertanggung jawab di hadapan-Nya. Lebih dari itu bahwa orang percaya diharapkan dapat memberikan pengaruh yang positif bagi lingkungan sekitarnya, dengan menjadi “garam” dan “terang” dunia. Kiranya melalui hidup anda Allah Tritunggal yang dimuliakan. •

Tidak ada komentar:

Posting Komentar